Showing posts with label sharing. Show all posts
Showing posts with label sharing. Show all posts

Thursday, March 12, 2015



Hak Pasien dalam Pelayanan Kesehatan 
(Sebuah Renungan)



Oleh : M. Rizky Hendiperdana

Tulisan ringan ini dibuat berangkat dari sebuah renungan dan keprihatinan pribadi terhadap apa yang dewasa ini sering terjadi dan kulihat dalam keseharian pelayanan kesehatan di Indonesia baik di RS ataupun di sarana kesehatan lainnya. Keprihatinan ini adalah tentang menurunnya kualitas interaksi yang terjadi dalam praktik layanan kesehatan. Kualitas interaksi tersebut dilihat dalam konteks interaksi yang saling menghargai dan menghormati baik antara pihak pasien dengan tenaga kesehatan maupun antar sesama tenaga kesehatan.
Kita semua sangat memahami bahwa dalam kaitannya dengan penyelenggaraan pelayanan kesehatan yang berkualitas amat sangat bergantung dari sisi sumber daya manusianya. Dalam hal ini tenaga kesehatan baik dokter, dokter gigi ,perawat, tenaga farmasi, terutama yang berhadapan langsung dengan pasien tentu memiliki peran sentral yang menentukan kualitas sebuah layanan kesehatan. Disamping faktor pembiayaan kesehatan dan teknologi kedokteran yang menyertainya.
Tidak dapat dipungkiri bahwa dalam melaksanakan profesinya sebagai seorang manusia, pasti sangat bergantung dari suasana psikologis batinnya. Ketika ada suatu hal yang mengganggu kenyamanan psikologinya dalam menjalankan profesinya, hal itu akan menjadi sesuatu yang kontra-produktif terhadap kualitas pelayanan kesehatan. Sangatlah wajar jika kita perlu menengok sejenak aspek kenyamanan psikologis dalam profesi kesehatan ini secara khusus.
Memang sudah merupakan risiko dari sebuah pekerjaan yaitu adanya beban kerja yang harus dipikul. Beban kerja tersebut seyogyanya harus yang terkait dengan tugas pokok dan fungsi dari tenaga kesehatan tersebut. Sangat ironis rasanya ketika sering dihadapkan pada sebuah realita dimana seorang tenaga kesehatan juga harus menanggung hal–hal yang berada di luar jangkauan tanggung jawabnya, ditambah lagi dengan krakteristik masyarakat yang sudah mulai berubah akibat adanya beberapa perubahan dalam segala dimensi, salah satunya kemajuan teknologi informasi.
Masyarakat kini lebih senang bersikap kritis yang cenderung berlebihan. Mengapa demikian, karena konsumen atau pengguna layanan kesehatan lebih cenderung bersikap “kasar” secara psikologis, yaitu menunjukkan sikap-sikap yang kurang layak untuk ditunjukkan oleh orang yang terdidik seperti memaki, berbicara dengan nada tinggi, berteriak kasar dsb kepada petugas kesehatan apapun profesinya. Tentunya kita semua perlu mencermati bahwa kembali lagi dibahas seperti yang dijelaskan awal, petugas kesehatan adalah seorang manusia yang harus dijaga dan dihormati perasaan, hati dan martabatnya. Terlebih lagi saat tindakan-tindakan tersebut dilakukan di depan umum/khalayak. Ketika perasaan seorang tenaga kesehatan sudah terganggu dengan apa yang dilakukan terhadapnya sudah barang tentu fokus dan konsentrasinya akan terganggu dan hal ini pada akhirnya hanya akan merugikan pasien.
Segala kecederungan perilaku konsumen kesehatan dewasa ini seperti yang disebutkan di atas berawal dari sebuah perubahan tren yang terjadi dalam hubungan terapetik antara pasien dan tenaga kesehatan. Pergeseran ini merubah pola komunikasi dan interaksi terapetik dari vertikal-paternalistic menjadi horizontal-kemitraan. Pola hubungan ini berubah dari yang dulu pasien berada di bawah posisinya dibanding tenaga kesehatan dalam hal komunikasi terapetik, sehingga pasien hanya tinggal terima saja terhadap apa yang akan diberikan terhadapnya dan pasien tidak perlu banyak bertanya tentang keadaannya, percayakan semuanya pada petugas kesehatan (dokter). Pola itu berubah kini menjadi hubungan yang lebih sejajar atau hampir sejajar. Kini pasien lebih menyadari hak-haknya yang pada zaman dulu tidak difasilitasi seperti hak atas informasi terkait dirinya dan hak atas menentukan nasib sendiri. Sebenarnya dalam keseharian hubungan terapetik pasien-dokter sangat banyak terdapat hak dan kewajiban yang melekat pada keduanya. Namun pada kali ini penulis akan lebih menfokuskan terdapat dua hak pasien yang paling mendasar ini.
Sistem pelayanan kesehatan pun mengakomodasi hak-hak tersebut dengan memberlakukan beberapa prosedur seperti pengajuan tersetujuan tindakan medik atau informed consent dalam bahasa inggrisnya, yang dilakukan sebelum ada sebuah tindakan medis  berisiko yang akan dilakukan terhadap pasien. Hal ini tentunya mendahulukan pemberian informasi lengkap terkait prosedur tersebut kepada pasien. Oleh karena itu istilah dalam bahasa inggrisnya yaitu informed consent akan lebih tepat jika dikaitkan dalam konteks ini. Karena dalam penggalan kata informed dan consent, terdapat komponen “informed” yang secara harfiah artinya memberi informasi atau penjelasan. Sedangkan komponen “consent” artinya memberi persetujuan atau persetujuan. Oleh karena itu secara kontekstual informed consent memberi pemahaman yang berarti sebuah persetujuan setelah adanya penjelasan seperti yang tercantum di dalam UU No. 29 tahun 2004 tentang Praktik Kedokteran Pasal 45 ayat 1 dan 2. Dalam konteks ini pasien atau keluarga pasien  berhak menerima informasi yang kiranya penting terkait apa pun yang akan dilakukan terhadap dirinya atau keluarganya sebelum memberikan persetujuannya secara tertulis.
Disebutkan di atas bahwa pola hubungan dokter-pasien adalah hampir sejajar bukan sama-sama sejajar posisinya. Hal ini diartikan bahwa dalam hubungan tersebut pasien bukan serta merta dapat menentukan segala sesuatu yang sesuai keinginannyas sendiri, seperti memilih terapi yang tidak disarankan bahkan sampai mengendalikan jenis-jenis obat yang ingin didapat di luar saran dokter. Hal ini berbicara tentang hak pasien dalam menentukan nasib sendiri tetaplah dibatasi oleh koridor kemandirian profesi kesehatan. Sehingga perlu dipahami bahwa hak atas menentukan nasib sendiri bukan berarti hak mutlak terhadap jenis pengobatan apa pun yang ingin pasien dapatkan layaknya dalam transaksi jual-beli biasa.
Hal lain terkait hak atas informasi medis, tidak semua informasi terkait penyakit pasien harus diberikan kepada pasien, informasi yang terlalu mendetil tentang penyakitnya hanya akan membuat pasien bingung dan bagi tenaga kesehatan hal itu terlalu membuang waktu untuk menjelaskan hal yang terlalu mendetil, seperti mekanisme mendetil proses penyakit, mekanisme selular, reaksi biokimia, dll. Pasien berhak mendapatkan informasi medis terkait dirinya hanya yang dianggap perlu untuk pasien saja dan tentu dianggap penting. Jadi sebuah kenyataan pasien berhak atas informasi penyakitnya tetap dibatasi oleh hal-hal yang perlu diketetahui pasien seperti diagnosa, rencana pengobatan, risiko pengobatan atau tindakan, alternatif pilihan pengobatan, risiko terburuk jika tidak diobati, komplikasi yang mungkin timbul, prognosis ke depan, dll seperti yang tercantum dalam Pasal 45 ayat 3 Jo Pasal 52 (a) UU Praktik Kedokteran yang semuanya memiliki hubungan langsung dan ada kaitannya untuk pasien bukannya informasi membabi buta yang melimpah dan terlalu mendetil yang tidak memiliki sangkut pautnya terhadap kondisi pasien.
Hal ini perlu diutarakan, sebab ketika tenaga kesehatan disibukkan fokus dan waktunya pada hal-hal yang kurang penting seperti melayani pemberian informasi yang terlalu mendetil pada pasien, ini akan menurunkan kualitas layanan kesehatan yang diberikan oleh tenaga kesehatan tersebut. Bahkan hal yang menjadi esensi dalam hal pelayanan kesehatan akan terbengkalai yang pada akhirnya akan merugikan pasien juga.
Kedua hal yang disebut di atas, yaitu hak pasien untuk menentukan nasib sendiri dan hak atas informasi tentunya harus dilihat secara bijak oleh kedua pihak baik pemberi layanan maupun pengguna layanan kesehatan dan tetap harus berada  pada koridor yang seharusnya. Jangan sampai tuntutan yang begitu tinggi terhadap hak-hak tersebut malah akan menurunkan kualitas pelayanan kesehatan. Tentunya di sini pasien atau konsumen pelayanan kesehatan tentu tidak mau dirugikan dengan menurunnya kualitas pelayanan kesehatan.
Perlunya hal tersebut disampaikan karena terdapat sebuah tren yang masif terhadap perilaku konsumen jasa kesehatan yang cenderung melampaui batas dalam penafsirannya terhadap hak-hak pasien. Tentunya hal ini tetap harus dijaga keseimbangannya, jangan sampai tidak seimbang. Di satu sisi tenaga kesehatan tetap harus memperhatikan hak-hak dasar yang melekat pada pasien, jangan sampai pasien terbengkalai hak-hak dasarnya. Di sisi yang satu perlu ada mekanisme kontrol terhadap penuntutan hak-hak pasien tersebut agar tidak melampaui batas dan akhirnya sampai mengganggu kemandirian dan independensi profesi dalam hal ini profesi dokter. Perlu ada kesepahaman dan empati yang ditumbuhkan antar pihak-pihak tersebut agar interaksi terapetik dalam layanan kesehatan di Indonesia tumbuh dalam kerangka yang konstruktif bukan malahan kontra-produktif.

Referensi : - UU No.29 Tahun 2004 Tentang Praktik Kedokteran
Sumber Gambar : Dokumentasi Pribadi

Friday, May 31, 2013

Sepercik Inspirasi dari kang Hermawan Aksan

Oleh : Hendiperdana
Ayo dong kita menulis cerpen!” Seolah-olah itu yang keluar dari mulut buku ini  jika dia bisa berbicara. Menulis cerpen dapat menjadi jalan awal atau batu loncatan bagiku untuk menapaki karya-karya lainnya. Karena sampai sejauh ini karya cerpen masih dinilai karya yang paling “mudah” untuk dibuat dibanding karya-karya lainnya. Oleh karena itu dalam rangka usahaku menjadi seorang penulis yang baik, cerpen akan menjadi pilihan saya untuk memulai berkarya. Semoga tetap istiqamah, konsisten dan kuat untu terus berkarya.

Hari ini aku meminjam buku dari perpustakaan daerah Jawa Barat, kebetulan perpus ini letaknya tak jauh dari rumahku. Hanya beberapa meter saja. Beruntungnya aku. Perpustakaan sebesar ini dan koleksi bukunya yang amat banyak dan lengkap berjarak hanya beberapa langkah dari rumahku. Buku yang kupinjam itu berjudul Proses Kreatif Menulis Cerpen karya Hermawan Aksan. Aku sangat berterima kasih pada pengarangnya karena melalui karyanya dia memompakan semangat baru untuk terus berkarya dalam menulis ke jiwaku.

Apa yang mau ditulis dalam hamparan kertas putih kosong tanpa goresan? Bagaimana caranya menyulap kertas kosong yang tanpa makna menjadi goresan-goresan tulisan yang mengandung banyak makna tergantung yang menafsirkan.

Baiklah, kita akan mulai segala aktivitas menulis ini dengan mencoba membuat karya cerpen. Sebelumnya apa cerpen itu? Dalam buku karya Hermawan Aksan yang disebut di atas, perbedaan yang mencolok antara cerpen dan novel adalah terletak pada sorotan konfliknya. Kalau cerpen tokoh sentralnya hanya satu dan alur konfliknya juga satu. Novel memiliki alur yang lebih kompleks dalam ceritanya dan tokohnya lebih banyak yang mengisi alur dalam sebuah cerita, bisa saling bersinggungan satu sama lain dalam salah satu bagian cerita. Intinya cerpen lebih sederhana dalam penggambaran alurnya.

Menurut buku Hermawan Aksan (yang menjadi pengetahuan baru untukku) sebuah cerpen yang baik hanya membutuhkan tiga unsur di dalamnya ( bukan struktur). Unsur itu adalah tema, alur dan karakterisasi tokoh.
Kalau masalah tema beliau menyarankan sebuah cerita pendek harus memiliki sebuah tema utama yang menggambarkan keseluruhan isi cerpen itu. Nah, kalau sebuah cerpen temanya tidak jelas, itu sama saja dengan berjalan di kegelapan tanpa tahu arah dan tujuannya, Kata Hermawan Aksan. Betul juga, setelah kubaca beberapa contoh cerpen dalam buku karyanya itu, memang cerpen-cerpen itu masing-masing memiliki tema atau “ruh” yang ingin disampaikan melalui alur cerita dan karakter tokoh-tokohnya. Kebanyakan temanya berkisar antara kebijaksanaan hidup, pelajaran hidup, dan isu sensitif sosial kemasyarakatan. Penyampaian melalui cerita ini tidak berkesan menggurui walaupun inti yang ingin disampaikan sebenarnya adalah sebuah “pelajaran”.

Lalu bagaimana dengan alur? Tentu saja alur adalah unsur yang tidak kalah pentingnya. Bagaimana cerita ini bisa memberikan penggambaran logis dan kronologis kalau tidak memiliki alur di dalamnya. Untuk alur cerita nampaknya pasti kita semua sudah mengerti pentingnya unsur tersebut dalam sebuah cerita terutama cerita pendek.

Unsur terakhir yang ada dalam sebuah cerita adalah karakterisasi tokoh di dalamnya. Setelah kurenungkan lebih dalam (walau aku sama sekali tidak memiliki latar belakang sastra sama sekali, tapi aku sering membaca karya fiksi) ternyata karya-karya fiksi yang telah kubaca adalah karya-karya sang pengarang yang membuat karakterisasi tokohnya amat terasa. Deskripsinya begitu jelas dan seolah dia nyata. Maka tak heran beberapa karya fiksi besar yang telah kubaca membuat seolah aku “mengenal” tokoh-tokoh di dalamnya. Tentunya ini karena deskripsi karakter yang amat baik dari pengarangnya. Semisal dalam novel thriller Tunnel Karya Roderick Gordon dan Brian Williams yang membuat seolah-olah saya mengenal sosok Will Burrow remaja yang penuh dengan rasa penasaran dan selalu melampiaskan rasa penasarannya dengan penggalian dan penjelajahan ke bawah tanah untuk menemukan ayahnya. Karakternya baik fisik dan sifatnya amat jelas digambarkan oleh penulisnya. Sehingga tidak berlebihan ketika membacanya, Will seperti sedang berbincang dengan kita atau setidaknya aku melihatnya secara langsung.

Untuk masalah karakterisasi tokoh dalam sebuah cerita, rasanya belum lengkap kalau kita tidak membahas novel The House of Spirit karya Isabel Allende. Sungguh, walaupun sudah sekitar 6 bulan yang lalu aku menyelesaikan membaca novel ini, tetapi tokoh Clara yang ada di novel ini masih sangat jelas di ingatanku. Karakterisasinya yang kuat seolah Clara hadir dan menemani keseharian kita dengan karakter yang digambarkan oleh penulisnya atau mungkin sebaliknya seolah aku yang selalu hadir di sana saat tokoh Clara sedang menjalankan perannya dalam cerita itu. Sejauh ini Clara masih menjadi karakterisasi tokoh yang terbaik menurutku. Tentu saja akan berbeda tiap penilaian orang.

Begitulah kekuatan karakterisasi tokoh dalam sebuah cerita. Dia akan memperkuat isi cerita, membuat nyata jalan cerita, mewarnai konflik yang ada, dan lebih hebatnya lagi ketika penulisnya membuat kita “mengenal” secara pribadi tokoh yang ada di dalamnya.

Pembahasan ini sama sekali masih jauh dari kata baik. Tapi ini setidaknya yang bisa kugambarkan dalam semangat dan inspirasi baru yang kudapat setelah membaca karya Hermawan Aksan ini yaitu Proses Kreatif Menulis Cerpen. Semoga aku tidak hanya membaca bukunya dan kemudian melupakan ide-ide dan kiat yang ada di dalamnya, tetapi juga berkarya dan terus berkarya.

Terima kasih kang Hermawan Aksan

Friday, December 07, 2012

Tentu, Aku Masih Berdiri Di Sini, Belum Jatuh


Di sini, aku berdiri masih bertahan.
Mungkin aku tak pernah mengira aku bisa secengeng ini, aku bisa sepayah dan selemah ini. Zona aman amat membuaimu dalam sebuah aliran kenyamanan yang membuatmu tidak siap untuk menerima perubahan-perubahan mendadak yang terjadi dalam sendi-sendi kehidupanmu. Apapun itu.
Zona nyaman melalaikan kita untuk terus waspada menyambut kemungkinan-kemungkinan yang tak terduga. Namun semua manusia amat mengidamkan selama mungkin berada pada zona nyaman. Memang itulah fitrah manusia. Hati kecilnya akan selalu cenderung mengingikan sesuatu yang mudah dan tak perlu susah melawan banyak resistensi.
Kini kita keadaan berubah dengan drastis, dalam balutan ketidakpastian. Kita dituntuk untuk beradaptasi dalam kapasistas kemampuan adaptasi kita yang berbeda-beda. Meloncat keluar dari zona nyaman yang lalu.
Kita semua pasti pernah mengalami perubahan mendadak yang terjadi dalam aspek kehidupan kita. Bisa ke arah yang kita senangi atau jeleknya berubah drastic kea rah yang kita benci. Saat itu terjadi, tak jarang manusia yang memiliki perasaan akan mengalami pergesekan dalam batin dan jiwanya, layaknya tubuh kita yang mengalami pergesekan dalam trauma fisik. Batin kita juga mengalami pergesekan-pergeseskan dan trauma-trauma baik kecil maupun besar. Semuanya akan mengubah suasana jiwa. Membiarkan jiwa menemukan adaptasinya sendiri sangatlah lumrah dan wajar, walaupun membutuhkan banyak waktu tergantung dari setiap pribadi.
Namun, dukungan orang sekitar dan tentunya dukungan kuat dari dalam jiwa kita untuk terus bisa bertahan dalam mengahadapi resistensi baru ini yang akan menentukan apakah kita akan menjadi pemenang atau tidak nantinya.
Zona baru , keadaan baru hanyalah episode berulang yang akan terjadi dalam keseluruhan episode panjang kehidupan kita. Dan akan begitu seterusnya , berulang dan berulang. Menuntut kita untuk terus bisa maju menjadi lebih dewasa dan membentuk mental kita. Tak apalah, mungkin keadaan ini yang menandakan kedewasaan kita sudah naik kelas. Dari kelas sebelumnya.
Kuncinya hanya satu, teruslah bergerak ke depan. Jangan menyerah. Walau harus menyeret langkah, seretlah. Asal kamu tidak memutuskan untuk menjatuhkan semua badanmu dalam keadaan tidak berdaya. Walau hati berteriak, meronta dan menangis. Mohonlah penerangan jalan dan kekuatan pada yang Maha Memberikan Jalan dan Maha Pemberi Kekuatan untuk hamba-Nya. Termasuk aku. Termasuk kita.

Sunday, October 21, 2012

Otak Kerbau

" Memang penalaran otak manusia luar biasa, " simpul cendekiawan Bos Bubalus membacakan makalahnya di ( di klinik Fakultas Kedokteran Hewan, Jalan Taman Kencana Bogor, "meskipun penelitian kami menunjukkan bahwa secara kimia dan fisika, otak kerbau mirip otak manusia....


Jadi otak Taufik Ismail yang pernah menghuni Taman Kencana, enak juga digoreng kalau begitu. 



 Sumber : Pengantar Filsafat Ilmu . Jujun S Suriasumantri

Friday, March 04, 2011

Waktu dan Refleksi Diri

“ Waktu dengan segala kesombongannya, berjalan tanpa mempedulikan apapun, apalagi mengucap salam. Dia berlalu terlalu cepat tanpa kita sadari sehalus setiap derai nafas manusia. Perlahan tapi pasti meninggalkan siapa pun yang tak peduli dengannya. Manfaatkanlah waktu dengan sebaik mungkin wahai jiwaku, karena ia tak akan pernah kembali lagi walaupun aku menangis dan memohon, ia akan tetap menampakkan wajahnya yang sekarang, bukan yang dahulu.”

Tuesday, February 08, 2011

Malu Karena Novel Menggapai Matahari

kixp3327big Hari ini saya baru menyelesaikan membaca sebuah novel karangan dari Adnan Katino (nama pena). Sebuah novel penggungah semangat berjudul “Menggapai Matahari” yang tentunya investasi waktu yang saya berikan untuk membaca novel ini tentunya tidak sia-sia. Isi novel ini bercerita tentang sebuah kehidupan seorang anak yang dibesarkan dalam keluarga tidak mampu di pedalaman sumatera utara, tapi ia ingin melawan resistens yang sudah lama melekat dengan istilah kemiskinan. Yaitu sulit untuk menikmati pendidikan tinggi. Melalui usahanya anak tersebut melawan tradisi miskin keluarganya berjuang melawan semua rintangan yang menyertainya dalam perjalanan menuju cita-cita, walau pahit tapi dia terus berjalan. Setelah membaca novel ini sampai selesai, jujur saja terbelesit suatu perasaan malu yang amat sangat pada diri sendiri mengingat perjuangan yang saya lalukan sekarang (tentunya dengan keadaaan yang amat jauh lebih baik jika dibandingkan dengan pemeran novel ini), tidak lebih baik dan lebih semangat dibanding cerita pada novel tersebut. Perasaan malu ini menjalar kepada sebuah kenyataan bahwa di dunia ini masih banyak hal-hal yang dapat kita syukuri dan di luar sana masih banyak hal yang dapat membuat kita sadar apa yang kita miliki saat ini adalah sesuatu yang lebih baik dari yang orang lain miliki.

Sisi positif dari membaca buku ini setelah tadi sedikit membahas tentang sisi negatinya yaitu menimbulkan perasaan malu, yaitu melalui novel ini tentu saja semangat menuntut ilmu saya semakin tergugah karena mengingat keadaan yang saya miliki sudah sangat cukup dan memadai untuk proses menuntut ilmu dan belajar, tinggal dari sisi kemauan dan keseriusan saja yang menentukan itu semua akan berjalan atau tidak. Ya terima kasih untuk pengarang, yang sudah menulis sebuah karya mungkin sebuah mahakarya yang dapat menginspirasi banyak orang menuju cita-citanya walau keadaan sulit dan keras tapi itu semua bukan merupakan sebuah alasan untuk berhenti berusaha. Terakhir, saya ingin mengutip sebuah pernyataan yang menurut saya sangat bagus sekali dalam novel ini dan pasti sudah sangat sering didengar, kira-kira begini “ Kepuasaan dari hasil yang kita dapat berbanding lurus dengan usaha dan kerja keras yang kita lakukan untuk mencapa hasil tersebut ”.

Tuesday, January 18, 2011

Anekdok Perang Paling Liar

Pasukan berbaju zirah besi itu beriringan maju ke medan perang paling depan, menggegam tombak di tangan kanannya, tombak yang ujungnya siap untuk merobek daging dari musuknya, tangan kirinya terdapat perisai besar yang kuat dan pedang tajam yang disarungkan di pinggang para pasukan t ersebut. List2_73678-cartoon-knightangkahnya kian mantap mengikuti irama tabuhan drum yang bergelora, sampai ketika barisan pasukan musuh terlihat di ujung cakrawala, tak gentar ketika melihat pasukan musuh yang jumlahnya kurang lebih sama dengan pasukan mereka, mereka tetap berjalan dengan rapi mendekati kerumunan pasukan musuh.

Ketika pasukan musuh sudah sangat dekat untuk bisa dilihat oleh mata, terkaget dan tercengang bukan main para pasukan ini. Ya, karena pasukan musuh yang mereka lihat adalah pasukan perempuan berusia tua renta yang biasa disebut dengan nenek. Ya, gerombolan pasukan musuh itu terdiri dari para nenek-nenek yang memegang tombak dengan payah, tubuhnya lesu ditiup lebatnya angin pertempuran. Bahkan untuk mengangkat tombak pun nenek itu sudah kepayahan. Dapat dipastikan nenek-nenek ini tidak akan bisa membunuh satu pun dari tentara berbaju zirah tersebut dan karena itu kemenangan sudah di tangan.

Ketika jarak antar pasukan sudah kian dekat sehingga mereka dapat melihat wajah musuhnya, komandan pasukan sudah bersiap untuk melancarkan serangan besar, Sang komandan terkejut kenapa pasukannya tidak melancarkan serangan seperti yang ia minta. Ternyata sebab itu semua adalah pasukan nenek-nenek bertombak yang ada di seberangnya adalah para nenek kandung masing-masing dari pasukan tersebut.

Technorati Tags:

Monday, October 06, 2008

8 oct 2008 start again the journey

Akhirnya setelah libur lammaaa banget, tgl 8 oct 2008 dah masuk kuliah lagi..( loo koq malah semangat??? ) ya dong kuduuu semangat..

Sekarang udah masuk semester 3 di FK UNISBA, dan mata kuliah pertama yang harus dihadapi yaitu sistem reproduksi,,hehehu

semuanya tentang reproduksi deh di situ ada,, mulai dari ilmu kebidanan, kandungan,orgn repro pria, organ repro wanita, dll



kembali lagi ke siklus kehidupan kuliah yang super padat,,malah lebih padat lagi katanya sekarang mah..siklus yag sungguh mengasyikkan .. ga tau knapa kalau untuk masalah kuliah menggebu2 banget, yaa mudah2an aja tetap konsisten semangatnya. soalnya kalau dihitung2 masa kuliah saya di sini masih lama banget, 5tahun, itu juga paling cepat..well, kalau semuanya dijalanin dengan senang hati dan ikhlas pastinya semuanya bakal jadi bumbu manis kehidupan yang bisa menambah rasa manis pahitnya sebuah perjuangan. reproduction system here we come!

"Together for the great future"

Thursday, October 02, 2008

Join with BEM FK UNISBA




Selasa, 23 september 2008. pelantikan staff BEM FK UNISBA periode 2008-2009

Sebuah hari yang menjadi sejarah dalam perjalanan hidup seorang mahasiswa di Bandung. hari itu setelah melewati proses kaderisasi dan screening, akhirnya terpilih juga saya menjadi sebagai salah satu staff di BEM FK UNISBA periode 2008-2009. fiuuhh proses yang lumayan melelahkan, tapi itu semua pastinya merupakan investasi yang sangat berharga untuk masa depan.


saya ditempatkan di departemen pengembangan keilmuan, alias "Bangil". ya kerjanya sih ga jauh dari ngurusin hal2 yg berhubungan kaya pengembangan pengetahuan, baik internal maupun eksternal. misalnya, TOEEFL, pelatihan ketrampilan dasar klinik, dan masih banyaklah pokoknya. Anyway, saya harus menjalankan semua tugas ini dengan dedikasi yang tinggi, pastinya karena ini semua konsekuensinya hhhaaha. selamat berjuang Rizq,


"
get the great future from the little think and start at now"

kalau orang bilang, selamat datang di BEM ! kalau saya mau ngucapin selamat datang BEM di kehidupan Mochamad Rizky Hendiperdana hehheuu