Tuesday, February 08, 2011

Malu Karena Novel Menggapai Matahari

kixp3327big Hari ini saya baru menyelesaikan membaca sebuah novel karangan dari Adnan Katino (nama pena). Sebuah novel penggungah semangat berjudul “Menggapai Matahari” yang tentunya investasi waktu yang saya berikan untuk membaca novel ini tentunya tidak sia-sia. Isi novel ini bercerita tentang sebuah kehidupan seorang anak yang dibesarkan dalam keluarga tidak mampu di pedalaman sumatera utara, tapi ia ingin melawan resistens yang sudah lama melekat dengan istilah kemiskinan. Yaitu sulit untuk menikmati pendidikan tinggi. Melalui usahanya anak tersebut melawan tradisi miskin keluarganya berjuang melawan semua rintangan yang menyertainya dalam perjalanan menuju cita-cita, walau pahit tapi dia terus berjalan. Setelah membaca novel ini sampai selesai, jujur saja terbelesit suatu perasaan malu yang amat sangat pada diri sendiri mengingat perjuangan yang saya lalukan sekarang (tentunya dengan keadaaan yang amat jauh lebih baik jika dibandingkan dengan pemeran novel ini), tidak lebih baik dan lebih semangat dibanding cerita pada novel tersebut. Perasaan malu ini menjalar kepada sebuah kenyataan bahwa di dunia ini masih banyak hal-hal yang dapat kita syukuri dan di luar sana masih banyak hal yang dapat membuat kita sadar apa yang kita miliki saat ini adalah sesuatu yang lebih baik dari yang orang lain miliki.

Sisi positif dari membaca buku ini setelah tadi sedikit membahas tentang sisi negatinya yaitu menimbulkan perasaan malu, yaitu melalui novel ini tentu saja semangat menuntut ilmu saya semakin tergugah karena mengingat keadaan yang saya miliki sudah sangat cukup dan memadai untuk proses menuntut ilmu dan belajar, tinggal dari sisi kemauan dan keseriusan saja yang menentukan itu semua akan berjalan atau tidak. Ya terima kasih untuk pengarang, yang sudah menulis sebuah karya mungkin sebuah mahakarya yang dapat menginspirasi banyak orang menuju cita-citanya walau keadaan sulit dan keras tapi itu semua bukan merupakan sebuah alasan untuk berhenti berusaha. Terakhir, saya ingin mengutip sebuah pernyataan yang menurut saya sangat bagus sekali dalam novel ini dan pasti sudah sangat sering didengar, kira-kira begini “ Kepuasaan dari hasil yang kita dapat berbanding lurus dengan usaha dan kerja keras yang kita lakukan untuk mencapa hasil tersebut ”.

Sunday, January 30, 2011

Renungan Makna Air Mata

Tuhan menciptakan manusia dengan segala kompleksitas yang terukur dengan amat cermat. Segala perhitungan-Nya memiliki sebuah tujuan untuk kebaikan manusia. Terinci dalam mencapai sebuah keseimbangan total yang tak dapat dicapai oleh siapapun.

Tuhan menciptakan keringat untuk kita menyesuaikan suhu tubuh kita yang panas agar terjadi penguapan udara yang bisa menurunkan suhu tubuh kita. Sehingga kita bisa merasakan kesejukan saat suhu tubuh kita memanas saat beraktivitas.

Tuhan menciptakan urin guna menjadi media pembuangan “sampah” yang dihasilkan tubuh kita dari hasil metabolism, agar tidak terjadi penumpukkan di dalam tubuh yang dapat mengancam nyawa akibat keracunan zat berbahaya.

Tuhan menciptakan darah untuk bisa menghantarkan segala keperluan kehidupan sel-sel tubuh kita baik oksigen sari-sari makanan. Tanpa adanya darah semua itu tak akan dapat tersebar rata ke seluruh bagian tubuh yang membutuhkan. Sehingga keseimbangan kehidupan seluruh penduduk tubuh manusia yaitu sel dapat terpenuhi.

Tuhan menciptakan tulang, sebuah jaringan paling kuat dalam tubuh kita. Yang tanpanya tubuh kita bagai seonggok daging yang tidak memiliki penyangga untuk tetap dalam posisinya.

Tuhan menciptakan paru-paru agar udara “kotor” yang dihasilkan dari tubuh kita dapat ditukar dengan udara “bersih”. Sehingga tercipta keseimbangan dalam tubuh manusia.

Tuhan menciptakan air mata, agar semua keluh kesah jiwa dan kesedihan manusia yang tidak dapat keluar melalui urin, keringat, paru bahkan darah dapat mengalir secara sempurna menuju suatu ketenangan jiwa yang melegakan.

Wednesday, January 19, 2011

Teknologi Brainwave dan Ketenangan Jiwa


Perkembangan neuroscience di zaman sekarang sudah sampai kepada tahap yang mencengangkan. Dengan ditemukannya alat yang disebut eletroencephalograhy (EEG), manusia sudah dapat mengidentifikasi beberapa jenis gelombang otak gelombang beta, alfa, teta dan delta. Gelombang otak yang dideteksi pada alat EEG bervariasi tergantung dari tingkat aktivitas manusia tersebut, semakin tinggi tengangan pikirannya semakin besar juga gelombang otak (Hz) yang dihasilkan. Pada tulisan ini tidak akan dibahas terlalu dalam mengenai keempat jenis gelombang otak tersebut. Yang akan dibahas dalam tulisan ini adalah efek lanjutan yang terjadi dari ditemukannya beragam jenis gelombang otak yakni Teknologi brainwave / gelombang otak. Teknologi brainwave ini merupakan suatu suara dengan frekuensi tertentu yang katanya dapat men suggest perasaan manusia yang mendengarkan (walaupun tidak mengalami sungguhan) seolah mengalami suatu pengalaman nyata yang didapat dari aktivitas auditori.

Beberapa macam contoh teknologi brainwave yang berkembang sekarang adalah audio brainwave yang dapat menstimulasi berbagai perasaan bagi pendengarnya, salah satunya perasaan tenang, nyaman, rileks, sedasi (mengantuk) bahkan efek zat kopi pun dapat dirasakan melaluui suara brainwave ini. Hal positif yang dapat dilihat dari fenomena ini adalah banyaknya brainwave ini yang membantu dalam banyak aspek kehidupan manusia, seperti rileks dan tenang yang tentunya sangat membantu kehidupan manusia yang tidak jarang dalam kesehariannya dibebani oleh beban stress yang mengganggu ketenangannya, bahkan proses detoksifikasi mental pun dapat dilakukan dari proses auditori ini. Dalam dunia pendidikan, teknologi ini digunakan sebagai stimulan untuk meningkatkan daya tangkap dan daya tahan pelajarnya dalam mempelajari suatu ilmu.

Banyak hal positif yang bisa dipetik pada fenomena perkembangan teknologi tersebut. Tetapi di balik banyak hal positif yang terbukti, terdapat satu hal yang mengganjal di benak penulis yaitu fakta bahwa tenologi ini tidak terdapat di dunia pada masa lampau, tetapi tidak sedikit orang-orang di masa lampau yang dapat mencapai tingkat ketenangan jiwa yang sangat paripurna tanpa dibantu dengan teknologi brainwave ini. Nampaknya orang terdahulu dalam mencapai ketenangan jiwa tersebut menempuh suatu jalan yang “alami” dibanding dengan intervensi teknologi berupa gelombang auditori yang diperdengarkan dengan headphone tersebut. Hal ini memberikan suatu pertanyaan besar di benak penulis. Apakah teknologi brainwave atau kita sebut intervensi otak ini aman bagi kesehatan mental kita mengingat jalan yang ditempuh untuk mencapai ketenangan jiwa zaman sekarang cenderung dalam konteks “paksaan”. Kedua, apakah hal ini benar-benar dapat memberikan kita suatu kebaikan bagi mental maupun fisik ? Hanya hal itu yang menjadi pertanyaan besar di benak penulis.Jika ada para pembaca yang budiman yang bisa memberikan gambaran lain, mari kita melakukan brainstorming melalui forum ini.