Friday, June 21, 2013

Renungan Kecil Tentang Baca dan Nulis

Oleh : Hendiperdana

Saat berkunjung ke kota Makassar, Sulawesi Selatan selama 3 hari kemarin memberikan pengalaman baru bagi saya. Karena ini adalah kunjungan pertama ke kota ini dan pertama kalinya saya menginjakkan kaki di pulau Sulawesi membuat takjub dengan apa yang saya lihat di kota ini. Pada hari-hari perjalananku di kota ini saya menyempatkan untuk mengunjungi perpustakaan umum kota Makassar yang terletak di jalan Lamaddukelleng no.3. Di sana saya menemukan sebuah poster layanan masyarakat tentang gerakan membaca dan menulis dan saya menemukan sebait kalimat “Menulislah jika kamu tidak ingin hilang dalam pusaran zaman.” Sebuah perumpamaan yang baik menurut saya. Ajakan atau mungkin bentuk perintah untuk menulis dan menghasilkan karya dari pemikiran kita. Menulis dengan tujuan karya yang kita hasilkan tidak mati ditelan zaman karena sebuah karya dari hasil pemikiran dan pembelajaran memiliki usia yang lebih panjang ketimbang yang memiliki karya itu. Usia kehidupan kita mungkin tidak akan melebihi 100 tahun tetapi tulisan yang kita buat yang dapat mempengaruhi orang lain dapat bertahan hidup sampai ribuan tahun. Pusaran zaman seiring dengan bergulirnya waktu seolah tidak peduli terhadap manusia yang hidup di dalamnya ketika umur manusia sudah habis, pusaran zaman hanya mengingatnya hanya sebait nama tak lebih. Apa yang membuat manusia dikenang oleh generasi-generasi berikutnya adalah saat dia bisa menghasilkan karya dari buah pemikirannya yang dapat bermanfaat untuk orang lain.
Francis Bacon seorang filsuf prancis yang terkenal di era renaissance tahun 1605 mengatakan
“maka kita lihat, betapa monument-monumen akal dan pembelajaran jauh lebih bertahan daripada monument-monumen kekuatan atau karya tangan. Karena bukanlah bait-bait Homer bertahan dua ribu lima ratus tahun atau lebih, tanpa kehilangan satu patah kata atau huruf pun. Dalam kurun waktu itu tak terkira banyaknya istana, kuil, benteng, kota yang telah membusuk dan hancur ?” ( The Advancement of Learning )
Bukankah kekuatan dari buah pemikiran dan akal dapat bertahan selama itu lebih kekal dari buah kekuatan tangan. Francis Bacon mengungkapkan hal itu saat kemajuan seni, ilmu pengetahuan dan sastra sedang berkembang pesat di eropa setelah melewati abad kegelapan. Bacon bukan hanya menyatakan kekuatan buah pemikiran dalam peradaban manusia tetapi juga kelanggengannya dalam mengisi khazanah peradaban manusia. Manusia adalah makhluk pembelajar yang merupakan keunikannya yang membedakan dengan makhluk lain. Manusia bisa membuat abstraksi dari realitas-realitas yang mereka amati dengan panca inderanya dan dituangkan dalam bentuk tulisan. Sehingga manusia lain dapat mempelajari pesan dan manfaat yang terkandung dalam abstraksi tersebut. Manusia melakukan simbolisasi terhadap realitas-realitas sehingga manusia lain dapat ikut mengkaji realitas tersebut tanpa menghadirkan objek kajian tersebut di depan mata. Kekuatan literasi yaitu kekuatan tulisan untuk dapat memindahkan hakikat dan manfaat ilmu yang dimiliki seseorang di kepalanya kepada orang lain. Dengan cara ini pengetahuan dapat berkembang dan dilestarikan. Sesuatu yang terkadang dianggap sepele oleh masyarakat kita dengan mengganggap menulis hanyalah sebuah aktivitas sehari-hari yang sederhana. Padahal menulis menyimpan amat banyak manfaat yang dikandungnya.
Apa yang bisa kita lakukan untuk memindahkan pengetahuan dan ilmu yang kita miliki ke orang lain selain menulis dan berbicara. Hanya dengan dua sarana inilah manusia sepanjang peradaban melakukan pelestarian ilmu dan pengembangan ilmu dari zaman ke zaman. Sayangnya sarana berbicara dalam orasi maupun ceramah tidak dapat bertahan lama karena sifatnya yang bisa didengar hanya saat itu walaupun kini dengan kemajuan teknologi, bentuk-bentuk penyaluran ilmu dalam bentuk suara sudah bisa direkam tetapi itu tidak pernah bisa menggantikan peran tulisan dalam perkembangan keilmuan. Tulisan memiliki sifat yang dapat diakses kapan pun dan bersifat abadi. Melalui tulisan pun pemikiran-pemikiran orang besar masih dapat kita baca dan pelajari di masa sekarang karena pemikiran-pemikiran tersebut diabadikan dalam  bentuk tulisan yang bersifat abstraksi.
Sesuatu yang tidak bisa terlepas dari aktivitas menulis adalah membaca. Seorang penulis atau mereka yang menuliskan gagasan-gagasan besarnya sudah pasti adalah seorang pembaca yang rakus. Membaca adalah saudara kembar menulis. Aktivitasnya sangat beriringan dan seperti dua sisi mata uang yang sifatnya saling melengkapi. Bagaimana tidak, kedua komponen ini saling membutuhkan satu sama lain untuk memperkuat eksistensi dan hakikatnya. Bagaimana mungkin seorang penulis yang tidak banyak membaca. Konten yang ditulisnya hanyalah sebuah opini pribadi yang tidak memiliki dasar dan cenderung pandangan subjektif yang apriori dan. Khazanah pengetahuannya tidak diperlebar dengan membaca sehingga konten yang ditulisnya “kering” makna. Begitu pula jika seseorang yang banyak sekali membaca tanpa melakukan aktivitas menuliskan pengetahuan, pandangan dan ilmu yang dia miliki. Semua makna dan hakikat ilmu itu akan tersimpan dalam kepalanya tanpa perpindahan manfaat dan hakikat ilmu. Ilmu hakikatnya harus banyak disebarkan agar bermanfaat untuk kehidupan orang lain dan bahkan umat. Ilmu disebarkan dengan banyak menuliskan pengetahuan yang kita miliki tersebut. Sehingga orang lain dapat menyerap pelajaran darinya dan menerapkannya untuk kehidupannya dan untuk masyarakat di sekitarnya. Keseimbangan antara aktivitas membaca dan menulis akan mengantarkan pribadi menuju keselarasan peran dalam kemajuan ilmu pengetahuan dan dunia literasi.
Begitu banyak tokoh besar terlepas dari ideologi yang digagasnya adalah seorang yang amat gila membaca dan seorang penulis yang baik. Sebut saja tokoh besar seperti Mahatma Gandhi, Ibnu Sina, Karl Marx, Voltaire, Moh. Hatta, Hasan Al Bana, BJ Habibie terlepas dari apa yang digagas dari pemikirannya, mereka adalah seorang yang gila membaca. Disebutkan dalam biografi mereka kesukaan mereka dalam menghabiskan waktu kesehariannya untuk membaca dan terus membaca. Lalu bagaimana mereka bisa mempengaruhi banyak orang sehingga menjadi tokoh besar yang dikenang jika mereka tidak memiliki kemampuan menulis yang baik. Mereka semua beserta banyak tokoh yang tidak disebutkan di sini adalah para penulis handal yang karyanya dapat mempengaruhi banyak orang dan membentuk pikiran banyak orang sehingga tak jarang tokoh besar melalui tulisan karyanya ia bisa menggerakan banyak orang melalui sebuah pergerakan yang bisa menggulingkan pemerintahan atau membuat ideologi dasar suatu pemerintahan. Semua itu dicapai hanya dengan menuliskan pemikirannya. Sehingga tidak berlebihan jika ada pepatah yang mengatakan “Mata pena lebih tajam daripada pedang.” Kurang lebih seperti itu pepatah tersebut.
Renungan kecil tentang manfaat besar membaca dan menulis ini mungkin tidak akan membawa manfaat ketika dilakukan dalam kapasitas seorang diri. Tanpa ada sebuah gerakan bersama membentuk kesadaran akan pentingnya dua hal sederhana dalam keseharian kita. Apapun kapasitas dan peran kita dalam masyarakat kedua elemen ini tidak boleh terlepas bahkan terabaikan. Meminjam istilah penulis favorit saya Gol A Gong dalam bukunya “Gempa Literasi”, Seseorang yang bergelut dalam dunia baca tulis dan menularkan semangat ini pada orang lain disebut pejuang literasi. Mungkin istilah itu yang tepat untuk menggambarkan peran ini. kenapa menjadi pejuang literasi menjadi penting dalam setiap ranah kehidupan, apapun kapasitas kita dan keahlian kita, aktivitas membaca dan menulis tidak boleh terabaikan ? Karena budaya literasi adalah sebuah “ruh” penggerak dan yang mengiringi setiap jengkal kemajuan dalam berbagai aspek kehidupan. Mari kita telusuri dalam banyak aspek kehidupan. kemajuan yang terjadi di dalamnya tidak bisa lepas dari pengaruh kemajuan literasi. Dalam dunia medis, terobosan dalam metode pengobatan terjadi karena kemajuan ilmu dan teknologi. Kemajuan ini tidak lepas dari peran literasi yang mendokumentasikan tiap jengkal kemajuan keilmuan dalam sebuah jurnal yang dapat dipelajari oleh generasi penerusnya dan dijadikan sebagai dasar untuk pengembangan keilmuan. Tentu hal seperti ini juga dengan mudah kita temukan contoh dalam bidang keilmuan yang lain.
Menulis berarti menciptakan sesuatu, bisa berupa novel yang bersifat fiksi ataupun karya ilmiah yang non-fiksi. Menulis artinya membuat hidup kita produktif. Karena kita bisa menghasilkan sebuah karya yang dibaca oleh orang lain.
Menjadi produktif dengan menulis kenapa menulis disebut aktivitas yang produktif, padahal dengan menulis kita tidak menghasilkan sebuah produk fisik dalam arti yang sesungguhnya. Tetapi kenapa menulis tetap disebut aktivitas yang produktif?
Jika kita hanya mengartikan "produktif" sebagai sebuah bentuk kegiatan yang menghasilkan benda nyata dan mengaitkannya dengan sayamulasi benda nyata tersebut. Menulis akan membuat kertas tetap menjadi kertas secara konteks fisik tetapi tidak dalam konteks makna. Tetapi jika kita menggeser paradigma benda fisik tersebut dalam kaitannya dengan kata produktif dengan menjadi paradigma manfaat dan nilai guna dalam masyarakat, maka tak heran dan sangat meyakinkan bahwa menulis adalah aktivitas yang produktif. Bahkan sangat produktif. Ditinjau dari segi production cost atau "biaya produksi".
Menulis dengan nalarnya, manusia bisa menghasilkan sebuah penuangan kapasitas intelektual, pengalaman, dan seni pribadi manusia tersebut ke dalam sebuah bentuk karya yang bisa secara universal dibaca, didengar, diapresiasi, dikritisi bahkan dimanfaatkan kontennya dalam rangka perkembangan peradaban manusia dalam konteks luas. Dengan tulisannya manusia memproduksi kekayaan intelektual. Sebuah sumbangsih yang bisa dilsayakan oleh tiap manusia bahkan jika mereka tidak memiliki apapun.
Dengan tulisan, manusia mampu memobilisasi minat, inspirasi, gagasan dan harapan orang lain sesuai dengan konten yang ditulisnya. Maksudnya dengan tulisan, manusia bisa mempengaruhi orang untuk berpikir, bersikap dan bertindak tanpa harus bertemu dan bertatap muka. Bukankah itu adalah hal yang menakjubkan?  Dan bukankah jika ide dan pemikiran tersebut menggerakkan ribuan bahkan jutaan orang untuk bersikap dan bertindak menuju ke hal yang positif dan membawa manfaat adalah merupakan hsl ysng produktif.
Jika boleh berandai-andai, seorang motivator pengembangan diri yang menulis tentang etos kerja yang baik dan motivasi dalam melsayakan pekerjaan terbaik yang diberikan oleh karyawan akan mempengaruhi banyak orang untuk memiliki semangat kerja dan berkarya secara masif dan luas yang tentunya resultan dari fenomena ini adalah perkembangan produktifitas dalam berbagai dimensi kehidupan salah satunya yang paling jelas adalah perkembangan ekonomi.
Dari fenomena kecil tersebut, terlihat salah satu contoh betapa produktifnya aktivitas menulis. Produktifitas tersebut akan lebih signifikan ketika banyak orang yang menulis dan berkontribusi dalam bidangnya masing-masing untuk perkembangan peradaban. Saya menggunakan istilah peradaban untuk mewakili kompleksitas dimensi aspek kehidupan manusia yang dapat dengan signifikan dipengaruhi oleh keberdaan tulisan-tulisan.oleh karena itu saya menggantinya dengan kata "peradaban". Terlihat ciri berpikir induktif sekilas.
Ternyata itu bukan hanya terjadi pada bidang ekonomi seperti yang sudah dibahas. Hal ini juga berlsaya di bidang kehidupan yang lain. Dengan kata lain penbaruhnya signifikan untuk peradaban. Mungkin hal ini terlalu abstrak dan umum. Tetapi saya disini tidak bermaksud untuk membahas hal yang detil dan teknis tetapi cukup di tataran kontekstual saja. Maafkan kekurangan pemahaman saya ini.
Sebagai penutup dan ingin juga disampaikan di sini  adalah fakta bahwa menulis juga mencerdaskan. Karen Amstrong dalam bukunya yang berjudul Compassion menyatakan menulis juga mencerdaskan. Kenyataannya memang begitu, setidaknya ada dua kecerdasan yang terlatjh dengan aktivitas menulis menurut Karen Amstrong yaitu kecerdasan intapersonal danl linguistik. Ya, kombinasi kecerdasan fundamental manusia yang bersifat ekspresif dan kontemplatif.



Friday, May 31, 2013

Sepercik Inspirasi dari kang Hermawan Aksan

Oleh : Hendiperdana
Ayo dong kita menulis cerpen!” Seolah-olah itu yang keluar dari mulut buku ini  jika dia bisa berbicara. Menulis cerpen dapat menjadi jalan awal atau batu loncatan bagiku untuk menapaki karya-karya lainnya. Karena sampai sejauh ini karya cerpen masih dinilai karya yang paling “mudah” untuk dibuat dibanding karya-karya lainnya. Oleh karena itu dalam rangka usahaku menjadi seorang penulis yang baik, cerpen akan menjadi pilihan saya untuk memulai berkarya. Semoga tetap istiqamah, konsisten dan kuat untu terus berkarya.

Hari ini aku meminjam buku dari perpustakaan daerah Jawa Barat, kebetulan perpus ini letaknya tak jauh dari rumahku. Hanya beberapa meter saja. Beruntungnya aku. Perpustakaan sebesar ini dan koleksi bukunya yang amat banyak dan lengkap berjarak hanya beberapa langkah dari rumahku. Buku yang kupinjam itu berjudul Proses Kreatif Menulis Cerpen karya Hermawan Aksan. Aku sangat berterima kasih pada pengarangnya karena melalui karyanya dia memompakan semangat baru untuk terus berkarya dalam menulis ke jiwaku.

Apa yang mau ditulis dalam hamparan kertas putih kosong tanpa goresan? Bagaimana caranya menyulap kertas kosong yang tanpa makna menjadi goresan-goresan tulisan yang mengandung banyak makna tergantung yang menafsirkan.

Baiklah, kita akan mulai segala aktivitas menulis ini dengan mencoba membuat karya cerpen. Sebelumnya apa cerpen itu? Dalam buku karya Hermawan Aksan yang disebut di atas, perbedaan yang mencolok antara cerpen dan novel adalah terletak pada sorotan konfliknya. Kalau cerpen tokoh sentralnya hanya satu dan alur konfliknya juga satu. Novel memiliki alur yang lebih kompleks dalam ceritanya dan tokohnya lebih banyak yang mengisi alur dalam sebuah cerita, bisa saling bersinggungan satu sama lain dalam salah satu bagian cerita. Intinya cerpen lebih sederhana dalam penggambaran alurnya.

Menurut buku Hermawan Aksan (yang menjadi pengetahuan baru untukku) sebuah cerpen yang baik hanya membutuhkan tiga unsur di dalamnya ( bukan struktur). Unsur itu adalah tema, alur dan karakterisasi tokoh.
Kalau masalah tema beliau menyarankan sebuah cerita pendek harus memiliki sebuah tema utama yang menggambarkan keseluruhan isi cerpen itu. Nah, kalau sebuah cerpen temanya tidak jelas, itu sama saja dengan berjalan di kegelapan tanpa tahu arah dan tujuannya, Kata Hermawan Aksan. Betul juga, setelah kubaca beberapa contoh cerpen dalam buku karyanya itu, memang cerpen-cerpen itu masing-masing memiliki tema atau “ruh” yang ingin disampaikan melalui alur cerita dan karakter tokoh-tokohnya. Kebanyakan temanya berkisar antara kebijaksanaan hidup, pelajaran hidup, dan isu sensitif sosial kemasyarakatan. Penyampaian melalui cerita ini tidak berkesan menggurui walaupun inti yang ingin disampaikan sebenarnya adalah sebuah “pelajaran”.

Lalu bagaimana dengan alur? Tentu saja alur adalah unsur yang tidak kalah pentingnya. Bagaimana cerita ini bisa memberikan penggambaran logis dan kronologis kalau tidak memiliki alur di dalamnya. Untuk alur cerita nampaknya pasti kita semua sudah mengerti pentingnya unsur tersebut dalam sebuah cerita terutama cerita pendek.

Unsur terakhir yang ada dalam sebuah cerita adalah karakterisasi tokoh di dalamnya. Setelah kurenungkan lebih dalam (walau aku sama sekali tidak memiliki latar belakang sastra sama sekali, tapi aku sering membaca karya fiksi) ternyata karya-karya fiksi yang telah kubaca adalah karya-karya sang pengarang yang membuat karakterisasi tokohnya amat terasa. Deskripsinya begitu jelas dan seolah dia nyata. Maka tak heran beberapa karya fiksi besar yang telah kubaca membuat seolah aku “mengenal” tokoh-tokoh di dalamnya. Tentunya ini karena deskripsi karakter yang amat baik dari pengarangnya. Semisal dalam novel thriller Tunnel Karya Roderick Gordon dan Brian Williams yang membuat seolah-olah saya mengenal sosok Will Burrow remaja yang penuh dengan rasa penasaran dan selalu melampiaskan rasa penasarannya dengan penggalian dan penjelajahan ke bawah tanah untuk menemukan ayahnya. Karakternya baik fisik dan sifatnya amat jelas digambarkan oleh penulisnya. Sehingga tidak berlebihan ketika membacanya, Will seperti sedang berbincang dengan kita atau setidaknya aku melihatnya secara langsung.

Untuk masalah karakterisasi tokoh dalam sebuah cerita, rasanya belum lengkap kalau kita tidak membahas novel The House of Spirit karya Isabel Allende. Sungguh, walaupun sudah sekitar 6 bulan yang lalu aku menyelesaikan membaca novel ini, tetapi tokoh Clara yang ada di novel ini masih sangat jelas di ingatanku. Karakterisasinya yang kuat seolah Clara hadir dan menemani keseharian kita dengan karakter yang digambarkan oleh penulisnya atau mungkin sebaliknya seolah aku yang selalu hadir di sana saat tokoh Clara sedang menjalankan perannya dalam cerita itu. Sejauh ini Clara masih menjadi karakterisasi tokoh yang terbaik menurutku. Tentu saja akan berbeda tiap penilaian orang.

Begitulah kekuatan karakterisasi tokoh dalam sebuah cerita. Dia akan memperkuat isi cerita, membuat nyata jalan cerita, mewarnai konflik yang ada, dan lebih hebatnya lagi ketika penulisnya membuat kita “mengenal” secara pribadi tokoh yang ada di dalamnya.

Pembahasan ini sama sekali masih jauh dari kata baik. Tapi ini setidaknya yang bisa kugambarkan dalam semangat dan inspirasi baru yang kudapat setelah membaca karya Hermawan Aksan ini yaitu Proses Kreatif Menulis Cerpen. Semoga aku tidak hanya membaca bukunya dan kemudian melupakan ide-ide dan kiat yang ada di dalamnya, tetapi juga berkarya dan terus berkarya.

Terima kasih kang Hermawan Aksan

Saturday, May 25, 2013

Suatu Hari di Kedalaman Bawah Sadarmu

Dewan jiwa.
Apa kabar dewan jiwa. Apakah rapat perkumpulan para dewan jiwa masih menjadi agenda rutin dalam bawah sadar ini. Apakah kalian semua masih terus saling berusaha saling mempengaruhi satu sama lain. Saling berebut pengaruh untuk menentukan jalan kehidupan jiwa ini.
Oh dewan jiwa ulah kalian telah menimbulkan dinamika yang tidak sedikit. Segalanya kutautkan pada sikap kalian, pada empati kalian dan tentu saja pada etika kalian. Jangan menyerobot, sesungguhnya menyerobot adalah perbuatan orang tidak sabar. 
“Perkataan ini dialamatkan untukmu hei dewan emosi ! Jangan pura-pura tidak melihat padaku!!”
"Hei, lihat kesini. Akibat ulahmu aku banyak menhancurkan hariku hanya karena masalah kecil. Tidak jarang orang menjadi tidak simpati padaku karena kalian dewan emosi yang tidak beretika dalam berebut pengaruh."
“Tapi kami hanya melakukan apa yang seharusnya kami lakukan, dan salah kamu sendiri kenapa masih mengundang kami dalam perkumpulan ini.” Tegas salah seorang dari dewan emosi. “Ini bentuk naluriah kami” tambah seorang rekan dari dewan emosi.
Seorang petinggi dewan Akal geram mendengarnya dan sudah tidak sabar untuk berkomentar.
“Sebentar, aku hanya ingin mengatakan. Anehnya mengapa saat para dewan emosi ini menyampaikan pendapatnya mulut kami seolah tersumpal benda padat yang keras yang menghalangi kami untuk ikut bicara?” “Kami hanya ingin kamu tahu, mungkin dewan emosi ini berlaku curang untuk membungkam dewan akal sehat sehingga kami sering kali kalah oleh dewan emosi.” Lengkaplah sudah semua hal yang terpendam diucapkan.
“Apa istimewanya mereka, padahal semua fondasi keberhasilanmu ditopang oleh sebagian besar dewan Akal mungkin juga peran lain dari dewan perenungan. Tapi kenapa kamu selalu lebih mendengarkan dewan emosi. Kami menyerah, kami tak sanggup lagi untuk hanya menjadi boneka bisu dalam bawah sadar ini. kami tak punya pengaruh apa-apa jika kamu terus mendengarkan dewan emosi”. Tegas sang petinggi dewan akal nampaknya mulai memperlihatkan rasa menyerah.
Apakah lebih baik keluarnya dewan Akal bisa digantikan perannya dengan dewan Nafsu. Nampaknya kalian akan lebih cocok dan saling melengkapi. Ujarku pada para dewan.
Akhirnya salah seorang dewan Akal yang sedari tadi diam mulai berkata. “Silahkan saja jika kamu ingin mereduksi makna manusia seperti apa yang telah dilakukan Charles Darwin.”
“Silahkan saja, karena si Darwin itu mungkin tidak mengetahui bahwa mahluk-makhluk yang diceritakan dalam teorinya tidak memiliki kami dalam kepalanya”.


Oleh                     : Hendiperdana
Sumber gambar : http://www.thehamiltonian.net/2011/11/perspectives-virtual-panel-on-this.html

Friday, December 07, 2012

Tentu, Aku Masih Berdiri Di Sini, Belum Jatuh


Di sini, aku berdiri masih bertahan.
Mungkin aku tak pernah mengira aku bisa secengeng ini, aku bisa sepayah dan selemah ini. Zona aman amat membuaimu dalam sebuah aliran kenyamanan yang membuatmu tidak siap untuk menerima perubahan-perubahan mendadak yang terjadi dalam sendi-sendi kehidupanmu. Apapun itu.
Zona nyaman melalaikan kita untuk terus waspada menyambut kemungkinan-kemungkinan yang tak terduga. Namun semua manusia amat mengidamkan selama mungkin berada pada zona nyaman. Memang itulah fitrah manusia. Hati kecilnya akan selalu cenderung mengingikan sesuatu yang mudah dan tak perlu susah melawan banyak resistensi.
Kini kita keadaan berubah dengan drastis, dalam balutan ketidakpastian. Kita dituntuk untuk beradaptasi dalam kapasistas kemampuan adaptasi kita yang berbeda-beda. Meloncat keluar dari zona nyaman yang lalu.
Kita semua pasti pernah mengalami perubahan mendadak yang terjadi dalam aspek kehidupan kita. Bisa ke arah yang kita senangi atau jeleknya berubah drastic kea rah yang kita benci. Saat itu terjadi, tak jarang manusia yang memiliki perasaan akan mengalami pergesekan dalam batin dan jiwanya, layaknya tubuh kita yang mengalami pergesekan dalam trauma fisik. Batin kita juga mengalami pergesekan-pergeseskan dan trauma-trauma baik kecil maupun besar. Semuanya akan mengubah suasana jiwa. Membiarkan jiwa menemukan adaptasinya sendiri sangatlah lumrah dan wajar, walaupun membutuhkan banyak waktu tergantung dari setiap pribadi.
Namun, dukungan orang sekitar dan tentunya dukungan kuat dari dalam jiwa kita untuk terus bisa bertahan dalam mengahadapi resistensi baru ini yang akan menentukan apakah kita akan menjadi pemenang atau tidak nantinya.
Zona baru , keadaan baru hanyalah episode berulang yang akan terjadi dalam keseluruhan episode panjang kehidupan kita. Dan akan begitu seterusnya , berulang dan berulang. Menuntut kita untuk terus bisa maju menjadi lebih dewasa dan membentuk mental kita. Tak apalah, mungkin keadaan ini yang menandakan kedewasaan kita sudah naik kelas. Dari kelas sebelumnya.
Kuncinya hanya satu, teruslah bergerak ke depan. Jangan menyerah. Walau harus menyeret langkah, seretlah. Asal kamu tidak memutuskan untuk menjatuhkan semua badanmu dalam keadaan tidak berdaya. Walau hati berteriak, meronta dan menangis. Mohonlah penerangan jalan dan kekuatan pada yang Maha Memberikan Jalan dan Maha Pemberi Kekuatan untuk hamba-Nya. Termasuk aku. Termasuk kita.